Saturday, July 9, 2016






Abstrak (Bahasa Indonesia)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh apa yang terjadi selama ini dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Peran guru yang masih sangat dominan dalam pembelajaran, kurangnya pengembangan strategi atau pendekatan baru yang sesuai dengan materi pembelajaran, serta kurangnya perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPS, sehingga menimbulkan ide bagi penulis untuk dapat menerapkan suatu pendekatan dalam pembelajaran IPS yaitu pendekatan learning by doing (belajar sambil bekerja). Dalam hal ini, belajar tidak hanya untuk dipahami tetapi untuk diketahui bagaimana melakukannya atau menggunakannya, Siswa dituntut untuk belajar aktif dan berfikir kritis serta secara sistematis menstimulus kemampuan siswa untuk mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan secara tepat serta percaya diri. Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan tersebut, dilaksanakan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02, setelah penerapan pendekatan learning by doing serta bagaimana aktifitas siswa pada proses belajar mengajar dengan menerapkan pendekatan learning by doing.
Hasil penelitian berdasarkan hasil observasi dan tes tulis menunjukan bahwa: 1) Guru dapat meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan untuk menyusun rencana pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing, ditunjukan dengan besarnya prosentase kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran dari 82,64% menjadi 94,40%; 2) Guru dapat meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing, ditunjukan dengan besarnya prosentase kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  dari 72,50% menjadi 94,37%; 3) Guru dapat meningkatkan dan mengoptimalkan aktifitas belajar siswa pada proses pembelajaran melalui penerapan pendekatan learning by doing ditunjukan  dengan besarnya prosentase aktifitas siswa pada proses pembelajaran dari 71,35% menjadi 95,17%; 4) Hasil belajar siswa meningkat pada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing, ditunjukan dengan besarnya prosentase hasil belajar siswa dari 53,69% menjadi 80%.
Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan pendekatan learning by doing telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pendidikan terutama dalam pendidikan ilmu pengetahuan sosial sehingga materi, metode, strategi serta sistem evaluasi pembelajaran lebih efektif.

Kata Kunci : Hasil belajar siswa, pendekatan learning by doing.
Abstract (English)
This research is motivated by what happens during the learning social studies in elementary school. The role of the teacher is still very dominant in learning, lack of development of new strategies or approaches that fit with the learning materials, and lack of attention from their parents to students learning performance, particularly on the subjects of social studies, giving rise to the idea for a writer to be able to adopt an approach to learning social studies approach learning by doing. In this case, learning is not only to understand but to know how to do it or use it, students are required to learn actively and think critically and systematically stimulate students' ability to express ideas, opinions and feelings appropriately and confidently. Therefore, to answer these problems, action research conducted in 5th grade of SDN Panulisan Timur 02.
The purpose of this study to determine student learning outcomes in social studies in 5th grade SDN Panulisan Timur 02, after the application of the approach of learning by doing, and how the activities of students in the learning process by implementing the approach of learning by doing.
The results based on the observation and written tests showed that : 1 ) The teacher can improve and optimize the ability to plan social studies learning through the application of learning by doing approach , it shown by the magnitude of the percentage of teachers in preparing lesson plans from 82.64 % to 94.40 %; 2 ) Teachers can improve and optimize the ability to implement the learning process through the implementation of the social studies approach to learning by doing , is shown by the magnitude of the percentage of the ability to implement the learning process through the implementation of social studies learning by doing approach from 72.50 % to 94.37 % ; 3 ) Teachers can improve and optimize student learning activities in the learning process through the implementation of learning by doing approach is shown by the magnitude of the percentage of students in learning activities from 71.35 % to 95.17 % ; 4 ) increasing student learning outcomes in social studies learning through the application of the approach learning by doing , is shown by the magnitude of the percentage of student learning outcomes from 53.69 % to 80 % .
Overall the results showed that the application the approach of learning by doing has been to improve student learning outcomes in social studies in 5th grade SDN Panulisan Timur 02.
This study is expected to develop science education, especially in social science education so that the materials, methods, strategies and more effective learning evaluation systems.





Keywords: student learning, learning by doing approach.




Pendahuluan
IPS merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dimiliki manusia sebagai dasar untuk dapat menguasai teknologi secara global. Mengingat begitu pentingnya pendidikan IPS dalam kehidupan, maka pembelajaran IPS selalu mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan tuntutan zaman. Oleh karena  itu pembelajaran IPS di sekolah harus memperluas wawasan siswa dalam berpikir kritis, dan kreatif, sehingga setelah mereka kembali kemasyarakat nanti  dapat mengembangkan dan mengkolaborasikan dengan permasalahan yang muncul.
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Metode pembelajaran IPS yang diberikan oleh guru sebatas ceramah, mencatat dan latihan-latihan, proses pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru. Guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan penilaian dilakukan melalui tes tertulis pada setiap akhir pembelajaran. Pelaksanaan penilaian proses belum secara optimal dilakukan guru. Hal ini terbukti di SD Negeri Panulisan Timur 02 prestasi belajar siswa terutama dalam pembelajaran IPS masih kurang dan belum mendapatkan perhatian yang khusus, karena berbagai faktor dan kendala. Permasalahan yang sering dikeluhkan guru dalam mempelajari IPS adalah kurangnya alokasi waktu dalam pembelajaran IPS, siswa kesulitan dalam memahami sesuatu pengertian yang abstrak, bahkan hasil evaluasi pembelajaran IPS memprihatinkan, nilai IPS yang diperoleh siswa lebih rendah dari mata pelajaran lainnya. Dibawah ini dapat dilihat nilai rata-rata mata pelajaran IPS yang lebih rendah dari lima mata pelajaran lainnya.
Kondisi seperti ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu kurangnya kemampuan gurudalam memahami metode pembelajaran IPS, kurangnya kemampuan siswa dalam memahami suatu masalah, guru kurang memberikan latihan secara kongkrit kepada siswa.
Peranan guru merupakan komponen yang sangat strategis dalam menentukankeberhasilan siswa. Oleh karena itu guru dituntut memiliki kemampuan yang profesional terutama dalam menentukan model, strategi, metode dan pendekatan dalam pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS memerlukan pengembangan strategi atau pendekatan baru yang sesuai dengan materi pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki metode pembelajaran yang sudah ada. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran.
Pembelajaran IPS memerlukan pengembangan strategi atau pendekatan baru yang sesuai dengan materi pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki metode pembelajaran yang sudah ada. Pada proses pembelajaran, seorang guru hendaknya mengajak siswanya untuk mendengarkan, memperhatikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses pembelajaran yang interaktif, agar tercapai proses pembelajaran yang diharapkan, maka salah satu pendekatan yang bisa dilakukan guru adalah learning by doing (belajar sambil bekerja).
Alasan digunakannya pendekatan learning by doing (belajar sambil bekerja) didasarkan pada pendapat Siti, J. (Bastaman 2009: 2) yaitu Learning by Doing (belajar sambil bekerja) adalah konsep pembelajaran yang dalam bahasa jawanya dikatakan, ngelmu iku kelakone karana laku, artinya ilmu itu diperoleh melalui serangkaian proses, pergulatan, dan jatuh bangun. Tidak mungkin ilmu bisa dikuasai hanya dengan mempelajari secara teori, melainkan harus dipraktekan.
Pendapat senada juga dikemukakan Kasihanin H.E dan Suyanto dkk (2007:2) mengatakan bahwa Learning by doing mengandung arti, bahwa, belajar tidak hanya untuk dipahami tetapi untuk diketahui bagaimana melakukannya atau menggunakannya. Siswa dituntut untuk belajar aktif dan berfikir kritis serta secara sistematis menstimulus kemampuan siswa untuk mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan secara tepat serta percaya diri. Jadi, pembelajaran akan lebih efektif apabila siswa dapat mempraktekannya dibandingkan hanya hanya terori saja, karena lebih memupuk rasa percaya diri.
Berdasarkan latar belakang dan pemikiran diatas, peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian yang berjudul: “PENERAPAN PENDEKATAN LEARNING BY DOING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG JENIS USAHA DAN KEGIATAN EKONOMI DI INDONESIA. (Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap)”.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, secara umum rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan menerapkan pendekatan learning by doing dalam pembelajaran IPS. Kemudian rumusan masalah tersebut diuraikan secara khusus ke dalam beberapa pertanyaan penelitian berikut: 1) Bagaimana rencana pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan Dayeuhluhur?; 2) Bagaimana proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan Dayeuhluhur?; 3) Bagaimana aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan Dayeuhluhur? ; 4) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswapada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan Dayeuhluhur?.
Berdasarkan masalah yang dirumuskan maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil. Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1) Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02; 2) Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02; 3) Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswapada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02; 4) Untuk meningkatkan hasil belajar siswapada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V  SD Negeri Panulisan Timur 02.

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pemilihan metode di atas berdasarkan pada pendapat Uhay S, (Kasbolah, 1998:12)  yang menyatakan bahwa: Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran dikelas. Upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban yang diangkat dari kegiatan sehari-hari dikelas.
Melihat pendapat di atas metode penelitian adalah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan, yang terdapat dalam penelitian dan merupakan cara untuk mengumpulkan, menyusun, menganalisa data tentang masalah yang menjadi obyek penelitian. Penelitian ini bersifat perbaikan hasil pembelajaran dan metode yang paling relevan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (Action Research Class Room).
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dipilih adalah model kemmis dan Mc Taggart. Model Kemmis dan Mc Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Model ini hampir sama dengan model Kurt Lewin hanya saja komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan adanya kenyataan yang tidak dapat dipungkiri ketika antara implementasi acting dan observing sebenarnya dua kegiatan tapi tidak dapat dipisahkan secara tegas, artinya ketika seorang peneliti melakukan tindakan otomatis ia melakukan pengamatan pula karena kegiatan itu dilakukan dalam satu kesatuan waktu secara bersamaan. Begitu berlangsungnya suatu tindakan begitu pula observasi juga dilaksanakan.
 Langkah-langkah penelitian tindakan kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Taggart terdiri 4 tahap yaitu: 1) Membuat rencana tindakan (planing), 2) Melaksanakan rencana tindakan (acting), 3) Mengamati (observing) proses pelaksanaan tindakan serta akibat yang ditimbulkannya. 4) Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh peneliti dilapangan, peneliti kemudian melakukan refleksi (reflecting) dan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan. Apabila hasil refleksi menunjukkan adanya kekurangan atau kelemahan dan  perlu diadakannya perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan maka perlu dilakukan perbaikan rencana tindakan pada siklus berikutnya begitulah seterusnya sampai mencapai hasil yang diharapkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini:
Tindakan & Observasi Pembelajaran Siklus 2
Tindakan & Observasi Pembelajaran Siklus 1
Refleksi
Kesimpulan
Refleksi
RENCANA
Perbaikan
Rencana
Alur Penelitian Tindakan Kelas




















Gambar 1 Modifikasi Model Kemmis dan Mc Taggart
                                         ( Jamal Ma’mur, 2010: 116)
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan 1) Teknik Observasi yaitu kegiatan observasi pada penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan observer, observasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung untuk melihat keefektivitasan gurubaik dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) maupun dalam kemampuan penampilan mengajar guru dalam proses belajar mengajar serta untuk melihat keefektivitasan siswa dalam pembelajaran dengan menerapkan pendekatan learning by doingtentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS. 2) Teknik Tes yaitu teknik tes yang digunakan adalah tes tertulis dan dilaksanakan pada akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan siswa setelah menerima pembelajaran melaluipendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS.

Hasil dan Pembahasan
Kegiatan orientasi sebelum tindakan pembelajaran dilaksanakan, peneliti bersama guru dan kepala sekolah membicarakan hal-hal yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran IPS tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia, serta rencana penelitian dengan menerapkan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian dilaksanakan dikelas V SD Negeri Panulisan Timur 02 sebanyak 23 siswa terdiri dari 11 laki-laki dan 12 perempuan. Adapun karakteristik siswa berdasarkan kemampuan akademiknya pada semester satu nilai rata-rata IPS 5,97 atau presentase 59,7%, mayoritas siswa dari keluarga menengah kebawah dengan tingkat kemampuan ekonomi lemah, sehingga perhatian terhadap pendidikan sangat kurang.
Pelaksanaan Program pengajaran IPS tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia telah dilaksanakan sesuai kurikulum 2006, pendekatan pengajaran IPS yang diberikan oleh guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih berperan aktif dalam pembelajaran sehingga aktifitas belajar siswa cenderung pasif. Prestasi atau hasil belajar siswa kelas V sebelum diterapkannya pendekatan learning by doing mendapat nilai rata-rata 39,1 atau presentase 39,10%, maka perlu adanya suatu refleksi terhadap prestasi belajar siswa. Refleksi dan fokus tindakan yang diperlukan adalah bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia.
Langkah pertama untuk mendapatkan tolak ukur dalam pembelajaran adalah mengidentifikasi pengetahuan awal siswa sebelum pembelajaran dengan menerapkan pendekatan learning by doing, sebagai bahan pertimbangan untuk menghasilkan data yang akurat, kemudian dengan melihat aktifitas siswa pada proses pembelajaran berlangsung sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan  pendekatan learning by doing. Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus 1, pada perencanaan pembelajaran, Perencanaan disiapkan berdasarkan penerapan pendekatan learning by doing yang disesuaikan dengan Standar Kompetensi Kurikulum 2006, juga memperhatikan karakteristik siswa. Mempersiapkan bahan materi pokok jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia dengan indikator menyebutkan jenis-jenis usaha perekonomian dalam masyarakat di Indonesia dan memberi contoh usaha yang dikelola sendiri dan kelompok. Menyiapkan alat pengumpul data seperti lembar observasi kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi kemampuan mengajar guru pada proses belajar mengajar, serta lembar observasi aktifitas belajar siswa pada proses pembelajaran.
Data hasil tindakan diolah melalui penganalisaan data dan dilanjutkan dengan refleksi dan revisi untuk tindakan siklus pebelajaran selanjutnya yaitu pembelajaran siklus 2.
Kemampuan belajar siswa pada pokok bahasan jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia sebelum menerapkan pendekatan learning by doing relatif sulit dikuasai siswa. Pelaksanaan pembelajaran IPS yang disajikan hanya sebatas metode ceramah. Mengingat hal tersebut, diperlukan keberanian guru untuk berinovasi dalam memilih dan merencanakan pembelajaran yang tepat agar dapat menarik perhatian siswa. Penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS telah mampu membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Selain penerapan pendekatan learning by doing juga pengelolaan kegiatan dan proses pembelajaran yang baik, menjadi faktor penentu keberhasilan keberhasilan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Rencana pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02 Kecamatan  Dayeuhluhur. Dadang S, (2007:3) menyatakan bahwa “ perencanaan pembelajaran (design instructional) adalah merupakan panduan bagi guru dan siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar ( pembelajaran )”. Hasil observasi kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siklus 1 secara keseluruhan dinilai baik, namun demikian masih dirasakan adanya kekurangan-kekurangan dalam aspek-aspek tertentu, diantaranya pada aspek : a) Pengembangan karakter dalam pembelajaran, oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan dan karakter bangsa. Setiap mata palajaran mempunyai nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri peserta didik. Hal ini disebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mata pelajaran  yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.
Menurut pengamatan observer kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran siklus 1 pada aspek pengembangan karakter dalam pembelajaran, dirasakan kurang sesuai dengan hakikat mata pelajaran dan pengembangan karakter kurang tampak pada setiap langkah pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan inovasi dan krekreatifan guru dalam menentukan dan menanamkan karakter-karakter yang lebih sesuai kepada siswa pada setiap mata pelajaran sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional; b) Penggunaan alat, media dan sumber pembelajaran,  kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Udin Saripuddin dan Winata Putra (199: 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu:Manusia, buku atau perpustakaan, media massa, alam lingkungan dan media pendidikan. Karena itu sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran atau asal untuk belajar seseorang. Menurut pengamatan observer dalam aspek ini, alat, media dan sumber belajar kurang bervariasi, guru atau peneliti hanya mencantumkan media gambar dan buku sebagai media dan sumber belajar pada proses pembelajaran, tidak adanya media lingkungan sebagai media utama dalam menerapkan pendekatan learning by doing pada pokok bahasan ini. Untuk itu dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru diharapkan dapat memilih dan menentukan alat, media dan sumber belajar yang baik dan sesuai dengan materi pembelajaran. Aspek-aspek yang dinilai dan dirasakan kurang pada siklus 1 tersebut dijadikan refleksi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus 2.
Setelah proses pembelajaran siklus 2 dilaksanakan, menurut pengamatan observer kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus 2 dinilai lebih baik dan meningkat,  hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai yang diberikan oleh observer pada aspek-aspek yang dirasa kurang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus 1 dan hal ini juga ditunjukkan dengan besarnya presentase kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang pada siklus 1 82,64% menjadi 94,40% pada siklus 2.
Perencanaan pembelajaran dan pengembangan kurikulum suatu proses pembelajaran akan dikatakan berhasil apabila diawali dengan perencanaan yang sangat matang, maka setengah keberhasilan sudah tercapai, setengahnya lagi terletak pada pelaksanaan. Hal ini berarti guru telah dapat meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan untuk menyusun rencana pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.
Proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02. Hasil observasi kemampuan mengajar guru dalam proses belajar mengajar pada pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siklus 1 secara keseluruhan dinilai baik, namun demikian masih dirasakan adanya kekurangan-kekurangan dalam aspek-aspek tertentu, diantaranya pada aspek :
a.    Aspek kemampuan dalam membuka pembelajaran.
Dalam aspek ini terdapat indikator yang dinilai dan dirasakan kurang yaitu guru kurang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Motivasi belajar menurut Sardiman yang dikutif oleh Riduwan (2009: 200) adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Dengan demikian motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya; (2) tingkah laku; (3) tujuan; (4) umpan balik.
Menurut pengamatan observer, guru atau peneliti kurang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga siswa terlihat kurang siap menerima pembelajaran dan cenderung pasif. Oleh karena itu guru diharapkan agar dapat membangkitkan motivasi belajar siswa dengan menerapkan prinsip belajar aktif, yakni pembelajaran yang melibatkan siswa secara fisik, mental (pemikiran, perasaan, dan sikap sosial) serta sesuai dengan tingkat perkembangan anak, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai.
b.    Aspek pada proses pembelajaran
Dalam aspek ini terdapat indikator yang dinilai dan dirasakan kurang yaitu pada indikator penanganan individu atau kelompok. Menurut pengamatan observer selama proses pembelajaran berlangsung penanganan individu atau kelompok dilakukan oleh guru atau peneliti cenderung memilih-milih siswa di setiap kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini guru dituntut memiliki kemampuan yang profesional terutama dalam menangani individu atau kelompok secara menyeluruh dan dengan tidak membeda-bedakannya.
c.    Aspek evaluasi
Menurut pengamatan observer dalam aspek evaluasi ini guru atau peneliti tidak membimbing siswa dalam menjalankan langkah-langkah pengerjaan soal evaluasi, sehingga masih ada siswa yang lupa mencantumkan nama. Untuk itu guru sebaiknya dapat membimbing dan mengarahkan siswa dalam menjalankan langkah-langkah pengerjaan evaluasi dan memastikan bahwa siswa telah mengerti dan memahami langkah-langkah pengerjaan soal evaluasi tersebut sehingga evaluasi berjalan efektif dan sesuai yang diharapkan. Aspek-aspek yang dinilai dan dirasakan kurang pada siklus 1 tersebut dijadikan refleksi dalam proses pelaksanaaan pembelajaran pada siklus 2.
Setelah proses pembelajaran siklus 2 dilaksanakan menurut pengamatan observer kemampuan guru dalam proses belajar mengajar melalui penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siklus 2 dinilai lebih baik dan meningkat,  hal ini ditunjukan dengan meningkatnya nilai yang diberikan oleh observer pada aspek-aspek yang dirasa kurang pada kemampuan guru dalam proses belajar mengajar siklus 2 dan ditunjukkan dengan besarnya presentase kemampuan mengajar guru dalam proses belajar mengajar yang pada siklus 1 70,53% menjadi 95,17% pada siklus 2.
Hal Ini berarti guru telah dapat meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.
Aktifitas belajar siswa pada  pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.
Wawan J, (Gie 1985:6) berpendapat pula bahwa: ‘keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada aktifitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran’. Melalui penerapan learning by doingpada pembelajaran IPS tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia, guru telah dapat menggugah siswa sehingga mereka dapat mengeksplorasi, bertanya, menerapkan, dan merepleksikan kembali konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan yang mereka peroleh. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya presentase aktifitas belajar siswa pada siklus 1 70,11% menjadi 94,02% pada siklus 2. Ini berarti guru telah dapat meningkatkan dan mengoptimalkan aktifitas beajar siswa pada proses pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing  tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02.
Hasil belajar siswa pada  pembelajaran IPS melalui penerapan pendekatan learning by doing untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02 Menurut Nana Sudjana (2006: 3) menyatakan bahwa “Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris”, dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar siswa pada siklus 1 secara keseluruhan masih jauh dari batas nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75%, hanya dua orang siswa yang mendapatkan nilai di atas KKM dengan kriteria Tuntas, selebihnya sebanyak 21 orang siswa mendapatkan nilai dibawah KKM dengan kriteria Tidak Tuntas. Hal ini menjadikan refleksi untuk melakukan pembelajaran pada siklus 2. Setelah pembelajaran siklus 2 dilaksanakan, hasil belajar siswa meningkat dan bahkan seluruh siswa telah mendapatkan nilai post test di atas 75 dan ini menjukkan bahwa pada pembelajaran siklus 2 hasil belajar siswa meningkat dan telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75% dengan kriteria Tuntas. Hasil belajar telah dicapai atau diperoleh siswa dengan baik berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. Hal ini terbukti dari hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus 1  dari 53,69% dan pada siklus 2 menjadi 80%. Dengan kata lain penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02, telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Keseluruhan pembelajaran yang dilakukan  guru selama dua siklus nampak adanya peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga dapat memberikan catatan dan menuntut guru untuk kreatif, inovatif kepada setiap tindakan tang mana dapat menutupi dan memperbaiki aspek yang kurang pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Untuk memperjelas hasil yang yang dipeoleh penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
Tabel 1
Rekapitulasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas
No
Aspek Penelitian
Hasil Belajar yang diperoleh
Siklus 1
Siklus 2
1
Kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3,31
3,78
2
Kemampuan mengajar guru dalam proses belajar mengajar
2,82
3,80
3
Aktifitas belajar siswa dalam kegiatan ekonomi masyarakat
2,80
3,73
4
Hasil belajar siswa
53,7
80

Dengan hasil itu semua, seperti yang dikatakan seorang Filsuf Cina  yang bernama Konfius, “ Jika kita mendengar maka kita akan tahu, jika kita melihat maka kita akan ingat, jika kita melakukan kita akan bisa “. Learning by doing adalah salah satu cara yang membuat kita paham dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan maupun dengan kehidupan.

Simpulan
Setelah peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dengan dua siklus pembelajaran dengan menerapkan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS di kelas VSD Negeri Panulisan Timur 02, maka dapat disimpulkan  sebagai berikut: 1) Kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siklus 1 dengan prsentase 82,64%, pada siklus 2 94,40%. Ini menunjukan bahwa kemampuan guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) telah meningkat dan telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75%. 2) Kemampuan mengajar guru dalam proses belajar mengejar dengan menerapkan pendekatan learning by doing membawa dampak yang berarti karena siswa dapat merasakan pembelajaran yang lebih nyata, bermakna, mandiri serta daya pikir yang ikut berkembang. Kemampuan penampilan mengajar guru pada proses belajar mengajar dengan menerapkan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada siklus 1 dengan presentase 70,53%, pada siklus 2 menjadi 95,17%. Ini menunjukan bahwa kemampuan penampilan mengajar guru pada proses belajar mengajar dengan menerapkan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia telah meningkat dan telah mencapai KKM yaitu 75%. 3) Aktifitas siswa dalam kegiatan ekonomi masyarakat dengan menerapkan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia secara keseluruhan menunjukan peningkatan dan telah mencapai KKM yaitu 75%, bisa dilihat dari hasil tiap siklus, yaitu siklus 1 dengan presentase 71,35%, pada siklus 2 dengan presentase 94,02%. Hal ini berarti aktifitas siswa pun meningkat. 4) Hasil belajar siswa juga meningkat dilihat dari hasil post test siklus 1 53,69%, siklus 2 menjadi80%. Ini adalah bukti keberhasilan penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Panulisan Timur 02. Dengan kata lain penerapan pendekatan learning by doing tentang jenis usaha dan kegiatan ekonomi di Indonesia pada pembelajaran IPS telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Daftar Pustaka
Sumber Cetak:
Asy’ari, dkk . (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial SD Kelas V. Jakarta : Erlangga
BSNP. (2006). Kurikulum 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Jakarta : BP Dharma Bhakti.

Juhaeriyani, S. (2009). Penerapan Learning by doing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Tasikmalaya : Tidak diterbitkan

Kasbolah, K. (1998). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta : Depdikbud
Sudjana, Nana. (2006). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
          PT Remaja Rosdakarya
Sukirman, D.dkk.(2007).Perencanaan Pembelajaran. Bandung: UPI PRESS
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Jakarta. PT Sinar Grafika

Winataputra, dkk (2007) Materi dan Pembelajaran IPS SD. Universitas Terbuka

Sumber Internet:
                                            
Junaedi, W. (2010). Aktivitas-belajar-siswa. [Online] Tersedia : http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/07[ 20 April 2012]
Nadhirin. (2010). Motivasi-dalam-pembelajaran. [Online]. Tersedia : http://nadhirin.blogspot.com// [25 Juni 2012]










0 komentar:

Post a Comment

Blogroll

×

About