Selasa, 08 Maret 2011

pentingnya manajemen kelas dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah sarana yang paling startegis dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia. Oleh karena itu tenaga pendidik memiliki peranan penting dalam menghasilkan generasi pembaharu yang berkualitas dan memiliki keterampilan. Dalam hal ini, tenaga pendidik harus dapat menjalankan fungsinya secara maksimal, seperti terdapat pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 20 ayat (2) yang berbunyi :
Pendidikan dan tenaga pendidikan berkewajiban : (a) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. (b) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Dengan terlaksananya fungsi tersebut sebagaimana dalam undang-undang akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membangitkan motivasi belajar siswa, hal ini juga berkaitan erat dengan gaya mengajar guru serta cara mengkoordinir kegiatan-kegiatan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam hal ini pengelolaan kelas yang efektif dan efisien sangat membantu siswa untuk mencapai tpengelolaan kelas yang efektif dan efisien sangat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.





B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah hakikat pengelolaan kelas?
2. Upaya-upaya apakah yang ditempuh dalam menciptakan manajemen kelas yang efektif dan efisien?
3. Bagaimanakah pentingnya manajemen kelas dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal?
C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan hakikat manajemen kelas yang meliputi pengertian dan tujuan manajemen kelas.
2. Mengetahui upaya-upaya yang ditempuh dalam menciptakan manajemen kelas yang efektif dan efisien yang akan memungkikan siswa senang belajar di kelas.
3. Menggambarkan pentingnya manajemen kelas dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal sehingga benar-benar harus diperhatikan oleh tenaga pendidik.






BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Manajemen Kelas
1. Pengertian
Manajemen kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu memanajemeni kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapat tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Manajemen atau pengelolaan dalam pengertian umum menurut Suharsimi Arikunto (Syaiful Bahri Djamarah, 2002 : 196) adalah “pengadministrasian, pengaturan, atau penataan suatu kegiatan”.
Sedangkan kelas menurut Oemar Hamalik (Syaiful Bahri Djamarah, 2002 : 196) adalah “suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru”. Sedangkan menurut Maman Rachman (1998 : 11), pengertian umum dari suatu kelas, yaitu “sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama”.
2. Tujuan
Kegiatan manajemen kelas menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Dengan demikian, berarti manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya.
Tujuan manajemen kelas menurut Oemar Hamalik (Usman Alwi, 1990 : 49) :
Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan berkerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.

Suharsimi Arikunto (Syaiful Bahri Djamarah, 2002 : 200) berpendapat bahwa “Tujuan Pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien”.
Menurutnya, sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib apabila :
1. Setiap anak aktif bekerja, tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu bahwa ada tugas yang harus dikerjakan atau tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.
2. Setiap anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib.
B. Upaya-Upaya yang Dilakukan dalam Menciptakan Manajem Kelas yang Efektif dan Efisien
Tujuan yang diniatkan dalam setiap kegiatan belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional maupun tujuan pengiring akan dapat dicapai secara optimal apabila dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi yang menguntungkan bagi peserta didik.
Dalam setiap proses pengajaran kondisi ini harus direncanakan dan diusahakan oleh guru secara sengaja agar dapat terhindar dari kondisi yang merugikan (usaha pencegahan), dan kembali kepada kondisi optimal apabila terjadi hal-hal yang merusak yang disebabkan oleh tingkah laku peserta didik di dalam kelas (usaha kreatif).
Ahmad Rohani (2004 : 122) mengemukakan bahwa :
Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila : pertama, diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Kedua, dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat menrusak iklim belajar mengajar. Ketiga, dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula dan kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan.


1. Sifat dan Situasi Belajar Mengajar
a. Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar penting terhadap hasil perbuatan belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses perbuatan belajar peserta didik dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik dimaksud akan meliputi hal-hal di bawah ini :
1) Rungan tempat berlangsung proses belajar mengajar.
2) Pengaturan tempat duduk.
3) Ventilasi dan pengaturan cahaya.
4) Pengaturan alat-alat pengajaran.
b. Kondisi Sosial Emosianal
Suasana sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan peserta didik merupakan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran, yang meliputi tipe kepemimpinan, sikap guru, dan suara guru.
c. Kondisi Organisasional
Kegiatan rutin secara organisasional dilakukan baik di tingka kelas maupun di tingka sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolan kelas yang meliputi :
1) Penggantian pelajaran
2) Guru yang berhalangan hadir
3) Masalah antar peserta didik
4) Upacara bendera
5) Kegiatan lainnya.
2. Masalah Manajemen Kelas
Manajemen kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelolah kelas. Indikator dari kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah. Tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, manajemen kelas merupakan kompetensi guru yang sangat tinggi dikuasai oleh guru dalam rangka keberhasilan proses belajar mengajar.
Menurut Made Pidarta (Syaiful Bahri Djamarah, 2002) mengemukakan bahwa masalah-masalah pengelolan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa adalah :
a. Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, dan pertentangan jenis kelamin.
b. Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, mislanya, ribut, bercakp-cakap, pergi ke sana ke mari, dan sebagainya.
c. Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya, ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya.
d. Kelas mentoleransi kekeliruan teman-temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yang kelliru.
e. Mudah bereaksi negatif/terganggu, misalnya bila di datangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah.
f. Moral rendah, permusuhan, agresif. Misalnya dalam lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang dan sebagainya.
g. Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi yang baru dan sebagainya.
Doyle (Syaiful Bahri djamarah, 2002) memandang variabel masalah pengelolan kelas dari sudut lain. Pendapatnya terungkap dari lima kategori masalah, yaitu:
a. Berdimensi banyak(multidimensionality)
Guru dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas yang meliputi tugas akademik yaitu persiapan mengajar lengkap dengan alat sera menyampaikan pelajaran dan mengevaluasi dan tugas administrasi yang meliputi pekerjaan mengabsen, mencatat data siswa, menyusun jadwal, dan mencatat hasil-hasil pengajaran.
b. Serentak (simultancity)
Berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama di kelas. Pekerjaan yang satu harus dikerjakan, tetapi pekerjaan yang lain tidak dapat ditunda. Seperti selama dilaksanakan diskusi, guru tidak hanya harus mendengarkan dan membantu mengarahkan pikiran siswa, tetapi juga memantau siswa yang kurang aktif dan efektif melibatkan diri dalam kegiatan, dan mencari strategi agar diskusi dapat berjalan dengan baik.
c. Segera (immediacy)
Proses integrasi guru dengan siswa terjadi timbal balik begitu cepat, sehingga menuntut guru dapat segera bertindak melalui proses berfikir : menerima rangsangan dari luar, berfikir, memutuskan dan melaksanakan tindakan. Untuk sesegera mungkin mengantisipasi permaslahan di atas itulah terkadang menjadi masalah bagi guru.
d. Iklim kelas yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu.
Doyle mengatakan bahwa iklim yang terjadi di kelas bukan semata-semata merupakan hasil upaya guru. Banyak faktor yang mempengarruhi terjadinya iklim di kelas, dan beberapa di antaranya datang dengan tiba-tiba. Seperti cecak yang jauh, sehingga mengagetkan siswa yang mengakibatkan suasana kelas menjadi gaduh.
e. Sejarah (history)
Emmer, Everston dan Anderson (1980) mengemukakan bahwa peristiwa yang terjadi pada waktu awal-awal sekolah akan banyak berpengaruh pada manajemen kelas pada tingkat-tingkat berikutnya.
3. Bebagai Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang terkait langsung dalam hal ini. Karena manajemen kelas yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan belajar anak didik baik secara berkelompok maupun secara Individual.
Keharmonisan hubungan guru dengan anak didik, tingginya kerja sama di antara anak didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Karena itu terdapat beberapa interkasi di antara guru dan murid, dan murid dengan murid. Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung kepada pendekatan yang guru lakukan dalam rangka manajemen kelas. Berbagai pendekatan tersebut adalah :
1. Pendekatan kekuasaan
Manajemen kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk menaatinya. Di dalamnya da kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.
2. Pendekatan ancaman
Dari pendekatan ancaman atau antimidasi ini, manajemen kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindirin dan paksaan.
3. Pendekatan kebebasan
Manajemen kelas diartikan sebagai proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas mengerjakan sesuatu kapan dan di mana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
4. Pendekatan resep
Di lakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas.


5. Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6. Pendekatan perubahan tingkah laku
Manajemen kelas diartikan sebagai suatu prose untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah untuk mengembangkan ingkah laku anak didik yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
7. Pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial
Menurut pendekatan ini, manajemen kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan yang baik antara guru dan anak didik, atau antara anak didik pribadi itu dan peranannya.
8. Pendekatan proses kelompok
Manajemen kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai salah satu sistem sosial, di mana proses kelompok yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan agar perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif.
9. Pendekatan elektis dan pluralistik
Pendekatan ini menekankan pada potensialitas, kreativitas dan inisiatif wali/guru kelas dalam memiih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang dihadapinya. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk pengelolaan kelas disini adalah suatu rumpun kegiatan guru untuk menciptkan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.
C. Pentingnya Manajemen Kelas Dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran Secara Optimal
Kelas merupakan tempat belajar bagi siswa dan tempat mereka bertumbuh dan berkembang baik secara fisik, intelektual, maupun emosional. Oleh karena ini, kelas harus dikelola sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan tempat belajar yang menyenangkan, di mana komponen-komponen pengajaran yakni murid dan guru terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang akan menciptakan suatu proses interaksi yang edukatif. Sudirman N, dkk (Syaiful Bahri Djamarah, 2002 : 198) mengemukakan bahwa :
Manajemen kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas. Karena itu kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif. Maka agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik-baiknya oleh guru.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Sudirman N di atas bahwa manajemen kelas merupakan upaya dalam menggunakan potensi kelas. Dalam hal ini termasuk penataan ruang dan perabot kelas dan juga pemberdayaan sarana dan alat peraga serta pengaturan waktu sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapat secara optimal.
Jadi manajemen kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru secara sengaja dan dilakukan secara berkesinambungan dengan tujuan membuat anak didik merasa betah di dalam kelas dengan adanya suasana yang menyenangkan atau kondusif demi tercapainya tujuan pengajaran.
Sugito (2003:70) mengemukakan bahwa “manajemen kelas yang efektif dan efisien itu akan mewujudkan proses pembelajaran yang efektif pula yang ditandai oleh sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara efektif”. Maksud pernyataan tersebut dengan bahwa pembelajaran bukan sekedar memorasi, bukan pula sekedar penekanan dada penugasan pengetahuan tentang apa yang diajarkan, tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan dalam kehidupan siswa. Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis pada siswa. Bahkan pembelajaran efektif juga lebih menekankan pada bagaimana agar siswa mampu belajar cara belajar (learning to learn). Melalui kreatifitas guru dalam mengelola kelas, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan (joyfull learning) dan tentu saja akan membangkitkan motivasi belajar siswa yang memusatkan pada kebutuhan aktualisasi diri mencapai prestasi dengan sendirinya, perwujudan pembelajaran efektif dalam memberikan kecakapan hidup (life skill) kepada siswa.
Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa manajemen kelas sangat penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Berhasilnya pencapaian tujuan pembelajaran tersebut sangatlah ditentukan oleh manajemen kelas yang dilaksanakan oleh guru yang bersangkutan.





BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran yang bertujuan menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Adapun upaya-upaya yang dilakukan dalam menciptakan manajemen kelas yang efektif dan efisien yakni mengetahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar, mengetahui masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul serta dapat merusak iklim belajar mengajar, dan dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas serta diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan.
Manajemen kelas sangat penting dalam meningkatkan mutu belajar anak di Sekolah Dasar, di mana dengan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien akan mewujudkan proses pembelajaran yang efektif pula yang akan melatih dan menanamkan sikap demokratis pada siswa dan menekankan pada bagaimana agar siswa mampu belajar cara belajar (learning to learn), disamping itu pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan (joyfull learning). Dengan demikian, adanya manajemen kelas yang baik sangat membantu pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.
B. Saran
Mengingat pentingnya manajemen kelas demi pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal, maka guru sebagai tenaga pendidik betul-betul harus melaksanakannya dengan baik, melalui berbagai pendekatan dalam manajemen kelas itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Usman. 1990. Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar. Ujung Pandang : Depdikbud.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Munandar, Utami. 2004. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakti. Jakarta : Rineka Cipta.
Rachman, Mamar. 1998. Manajemen Kelas. Semarang : Depdikbud.
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugito. Oktober 2003. Penyelenggaraan School Reform dalam Konteks MPMBS di SMU. Gerbang hlm. 70.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Cemerlang.
Usman, Uzer. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja.

Rabu, 01 Desember 2010

menjadi orang tua yang bijak dalam mendidik anak

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]

MENJADI ORANG TUA YANG


‘BIJAK’


DALAM MENDIDIK ANAK



Oleh Agung Webe, Recollectionist

http://www.sakraindonesia.com

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


Bagi orang tua, memberikan yang terbaik untuk anak merupakan tanggung

jawab yang harus diberikan, apalagi di bidang pendidikan. Beberapa orang tua

rela mengeluarkan uang yang terhitung sangat banyak untuk mencapai apa yang

dinamakan anaknya ‘maju’. Maju bagi orang modern dikatagorikan sebagai

genius, kreatif dan mempunyai nilai yang tinggi dalam mata pelajaran di sekolah

mereka.



Berbagai macam pelatihan yang digelar dengan biaya yang terhitung tinggi

tersebut diminati dan diserbu oleh kalangan orang tua yang tergolong mampu.

Apabila memang ini adalah ‘jalan’ untuk menjadi manusia genius dan kreatif,

bagaimana dengan anak‐anak yang orang tuanya tidak mampu? Apakah mereka

tidak berhak menjadi genius dan kreatif? Apakah anak genius dan kreatif hanyalah

hak para anak orang tua yang mampu?



Ada sebuah paradigma yang harus kita bongkar dan kita susun kembali atas

fenomena tersebut, mau tidak mau dan suka tidak suka dengan keadaan ini, kita

harus melihat beberapa sisi yang terkait untuk perkembangan seorang anak.

Benarkah dibutuhkan sebuah kondisi yang bernama genius tersebut?

Apa hubungannya genius dengan kreatif? Apakah anak genius sudah tentu

kreatif? Atau apakah anak kreatif itu tergolong genius?



Yang pertama tentang genius.

Saya menulis panjang lebar tentang ini dalam catatan difacebook saya yang

berjudul “GENIUS ADALAH SEBUAH KARYA”

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


Namun secara ringkas, kondisi genius bukanlah kondisi kondisi instan tanpa hasil

apapun yang diperbuat oleh seseorang. Apa ukurannya dari genius ini? Apakah IQ

yang tinggi? Oke, taruhlah IQ seorang anak tersebut tinggi, kemudian apa yang

bisa diperbuat dengan IQ tinggi tersebut? Apakah hanya bisa mengerjakan soal‐

soal ujian dengan nilai tinggi adalah sebuah kondisi yang dikatakan genius? Kalau

kita tarik lebih jauh lagi, apakah dengan tingginya nilai ujian yang dicapai akan

menjamin seorang anak akan sukses dalam kehidupannya?



Marilah kita melihat orang‐orang yang telah kita beri label genius, yaitu Newton,

Mozart, Alfa Edison, Einstein, dan sebagainya. Mari kita baca ulang biografi

mereka. Sekarang kita lihat, kita katagorikan mereka sebagai apa? Sukeskah?

Mereka sukses menemukan sesuatu yang sangat berharga untuk kehidupan

manusia, itu sangat betul sekali. Di sisi lain, mereka hidup menyendiri, tidak

bersosialisasi karena pemikiran mereka tidak bisa diterima oleh jamannya.

Mungkin mereka kesepian dari kehidupan sosial mereka, atau mungkin juga

mereka menikmati kesepian tersebut.



Dan yang lebih nyata lagi adalah kita tidak akan memberi label genius kepada

mereka tanpa karya‐karya mereka.

“Genius bukanlah sebuah keadaan yang dituju, namun sebuah karya yang

dilahirkan”



Kalau kita bicara tentang kecerdasan, IQ yang tinggi bukanlah satu‐satunya

kecerdasan yang mendukung seseorang untuk sukses. Kita tahu bahwa kehidupan

ini membutuhkan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Antara ‘intelektual‐

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


emosi‐spiritual’ haruslah sama‐sama berkembang untuk menyikapi realita

keadaan. Tidak ada yang lebih penting satu diantaranya, dan tidak ada yang harus

dilebihkan satu di antaranya. Kita membutuhkan ketiga kecerdasan tersebut

seimbang dalam aplikasinya untuk situasi yang dibutuhkan.



Sekarang kita bicara masalah kreatif.

Apakah orang genius itu kreatif? Justru dari kreatifitas mereka itulah kita bisa

tahu bahwa mereka genius. Tanpa kreatifitas yang dilahirkan, kita tidak akan

mengenal tentang ke‐geniusan mereka.

Genius adalah sebuah kondisi dan Kreatif adalah sebuah tindakan.

Sekarang kita memerlukan kondisi atau tindakan? Mana yang anda butuhkan?



Kreatifitas timbul karena kerja otak yang maksimal. Kerja otak yang maksimal

terjadi karena zat‐zat ‘neuro transmiter’ di otak bereaksi maksimal. Zat tersebut

akan bereaksi secara maksimal apabila kondisi seseorang tenang dan emosi stabil.

SIMPLE!

Apabila kita mengenal tentang otak kiri dan otak kanan, tentunya kita tidak akan

memperlakuan secara istimewa salah satu bagian tersebut. Kita mengetahui

kapan seseorang harus berpikir logis dan kapan seseorang harus mengembangkan

rasa dan sensitifitasnya. Kedua kondisi dari otak kiri dan kanan tersebut kita

perlukan pada situasi yang berbeda.



Kita juga mengenal adanya otak besar dan otak kecil dan diantaranya terdapat

otak tengah yang merupakan penghubungan antara otak besar dan otak kecil.

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


Otak tengah bukanlah tempat kecerdasan. Ia hanya berfungsi untuk

menghubungkan otak besar dan otak kecil.

Mau tahu apakah otak tengah anda berfungsi baik atau tidak? Cek gerakan reflek

dan motorik anda. Bila tidak ada gangguan disana, berarti fungsi otak tengah

sebagai penghubung antara otak besar dan otak kecil bekerja secara sempurna.



Kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh hal‐hal kompleks di dalam otaknya.

Kita tidak bisa bilang bahwa hanya bagian otak tertentu yang mempengaruhi

kecerdasan tersebut. Belum lagi berbagai faktor dari kecerdasan lainnya, seperti

emosi dan spiritual mereka.



Hal yang sangat sederhana sebenarnya sudah diberikan Tuhan untuk

mengeluarkan kreatifias anak ini. Tidak perlu biaya mahal, tidak perlu yang aneh‐

aneh.

Saya ulangi lagi, bahwa untuk mengeluarkan kreatifitas dari seseorang, syaratnya

adalah semua zat ‘neuro transmiter’ dalam otak bereaksi secara maksimal. Untuk

itu hanya diperlukan kondisi yang tenang dan emosi yang stabil.



Kondisi tenang dan emosi stabil ini bisa anda peroleh dengan banyak

mendengarkan musik‐musik lembut, mengolah pernafasan, menciptakan keadaan

yang mendukung suasana tenang tersebut.



Mau tindakan nyata? Marilah kita lakukan perubahan dalam pendidikan kita.

Sederhana dan gampang! Taruhlah sebuah sound system di kelas anak didik anda.

Ini perlu perjuangan sedikit dan pengorbanan karena kalau pihak sekolah tidak

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


menyediakan sound system, anda harus membawa aktif speaker dan laptop anda

sendiri.

Anda perlu mempersiapkan musik‐ musik tenang yang membawa emosi kepada

tingkat stabil. Musik‐musik ini bisa anda dapatkan di toko musik. Atau saya

merekomendasikan untuk menggunakan musik karya anak bangsa yang bernama

diDDi AGePhe.

Anda lakukan ini sebelum mereka memulai pelajarannya, dan anda hanya

membutuhkan waktu lima menit. Lakukan ini setiap awal, setelah istirahat dan

ketika mau pulang.

Tidak membutuhkan waktu lama dan tidak menyita waktu pelajaran anda.



Sekali lagi, bahwa hasilnya tidak INSTAN!

Namun kita bisa melihat perubahan‐perubahan nyata dalam kreatifitas yang

dihasilkan. Ingat bahwa metode ini tidak akan menjadikan seorang anak

mempunyai nilai bagus ( ini tugas penyampaian materi pelajaran ), namun

metode ini akan menjadikan anak mempunyai emosi yang stabil, tenang dan

kreatif!

Dengan emosi yang stabil dan tenang, ia akan lahir menjadi pribadi yang tangguh

dan tahan banting. Ketenangan seseorang akan membawa ia bisa berpikir dengan

jernih tentang keputusan‐keputusan yang akan diambilnya. Dengan emosi yang

stabil ia juga akan menjadi pribadi yang berbudi pekerti mulia serta bertanggung

jawab terhadap hidupnya.

May 17, 2010 [AGUNG WEBE – MENJADI ORANG TUA YANG BIJAK]


Sekarang, anda akan membawa anak didik anda kearah mana? Ini semua

tergantung anda, para orang tua dan para pengajar di Indonesia. Kita harus bijak

dalam menentukan pendidikan untuk anak‐anak kita, para generasi Indonesia



Salam cerdas Indonesia



Agung webe, recollectionist

http://www.sakraindonesia.com